Senin, 27 Juli 2009

HASIL MUTAKHIR TENTANG RISET OTA


Print E-mail

Written by adm02
Wednesday, 13 May 2009 18:28

Sistem alami terhadap bekerjanya otak agar potensi yang dimiliki anak dapat dikembangkan seoptimal mungkin tanpa terbentur dengan struktur dan fungsi otak merupakan hasil mutakhir dari riset otak. Sistem pendidikan yang menentang hakikat dari prinsip alami dari otak ini telah banyak merugikan kehidupan anak.

Riset Otak oleh Paul McLean menunjukkan bahwa ada tiga bagian otak yang fungsinya berbeda dalam mempengaruhi proses belajar(three in one). Kondisi ini sangat bergantung pada bagian otak mana yang mendominasi anak. Ketiga otak tersebut adalah:

1. Brainstem

Brainstem ini diartikan sebagai batang otak yang berfungsi menyerang dan menyelamatkan diri atau dengan kata lain sebagai otak yang bereaksi cepat. Pengaruh dari bagian otak ini akan mendominasi jika seseorang dalam kondisi terancam, sedih, marah, takut, dan sebagainya. Inilah yang membuat manusia mempertahankan dirinya, yang sehari-hari dapat dilihat dalam perilaku seperti berdebat, menangkis pukulan jika diserang. Kondisi ini tidak menguntungkan dalam proses pembelajaran.

2. Cerebral Cortex

Bagian ini terkait dengan kulit otak. Walau pun ada juga kulit otak kecil ”cerebellum”, namun cerebral cortex selalu berkaitan dengan otak berfikir. Di otak besar cortex cerebri ini berperan dalam proses berfikir tingkat tinggi, seperti berbhasa, memori, emosi, menganalisa, kreativitas, dan spiritualitas. Sementara di otak kecil cerebral cortex berfungsi memainkan peran sebagai pengatur gerakan dan kesimbangan tubuh.

Kesalahan paling besar yang sering dilakukan dalam proses pendidikan usia dini adalah menganggap cerebral cortex ini sebagai keseluruhan otak yang berfungsi sebagai berfikir semata. Padahal berfikir hanyalah salah satu fungsi otak. Komponen lain dari fungsi otak terkait dengan emosi sering dianggap bagian lain di luar otak.

Menurut Erich Fromm Cerebral cortex ini ia istilahkan sebagai penanda lahirnya manusia modern. Oleh karena rasionalitas manusia berpusat pada cerebral cortex ini yang membuat manusia berfikir dan melakukan banyak hal dalam kehidupannya.

Judson Herrick, sebagai seorang neuroanatomist mendukung Erich Fromm dengan menyatakan bahwa cerebral cortex akan melahirkan peradaban “ cortex cerebri is the organ of civilization”. Oleh karena cerebral cortex mampu melakukan fungsinya untuk “mengetahui, berfikir, dan aktivitas intelektual lainnya”. Korbinian Broddman selanjutnya mengklasifikasikan kulit otak berdasarkan penelitian arsitektur sel-sel di kulit otak atas 52 wilayah. Ia kemudian menandainya dengan angka, misalnya wilayah 3,2, dan 1 sebagai daerah pengatur sensasi, tubuh, wilayah 4,5, dan 6 sebagai pengatur gerakan, dan wilayah 41 dan 42 untuk mengatur pendengaran, dan lain-lain. Wilayah ini saling berhubungan melalui serabut-serabutnya yang prosesnya tidak lebih dari satu menit. Kecepatan dan ketepatan otak dalam mencerna informasi merupakan keunggulan otak manusia yang tak tertandingi.

3. Sistem Limbik

Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. Dialah yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran (seat of love). Carl Gustav Jung menyebutnya sebagai ”Alam Bawah Sadar” atau ketaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong orang, dan perilaku tulus lainnya. LeDoux memngistilah sistem limbik ini sebagai tempat duduk bagi semua nafsu manusia, tempat bermuaranya cinta, respek dan kejujuran.

Beberapa prinsip sebagai bentuk kecerdasan emosi yang diperankan sistem limbik perlu dipahami oleh pendidik antara lain:

  • Mempengaruhi sistem belajar manusia. Sistem limbik ini mengontrol kemampuan daya ingat, kemampuan merespon segala informasi yang diterima pancaindera.
  • Mengontrol setiap informasi yang masuk. Sistem limbik ini mengontrol setiap informasi yang masuk dan memilih informasi yang berharga untuk disimpan dan yang tidak berharga akan dilupakan. Oleh karena itu sistem limbik menentukan terbentuknya daya ingat jangka panjang yang berguna dalam pelayanan pendidikan anak.
  • Otak tidak akan memberikan perhatian jika informasi yang masuk mengabaikan sistem limbik. Suasana belajar yang membosankan membuat sistem limbik mengkerut dan kehilangan daya kerjanya. Oleh karena itu suasana belajar yang menyenangkan akan memberi pengaruh positif pada kerja sistem limbik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar